Press "Enter" to skip to content

Bahagia dari memberi

Ahmad Rifai 0

arSeorang Syeikh berjalan-jalan santai bersama salah seorang di antara murid-muridnya di sebuah kebun. Ketika tengah asyik berbincang, keduanya melihat sepasang sepatu yang sudah usang lagi lusuh. Mereka berdua yakin kalau itu adalah sepatu milik pekerja kebun yang bertugas di sana, yang sebentar lagi akan segera menyelesaikan pekerjaannya.

Sang murid melihat kepada syekhnya sambil berujar,

“Bagaimana kalau kita candai tukang kebun ini dengan menyembunyikan sepatunya, kemudian kita bersembunyi di belakang pohon-pohon? Nanti ketika dia datang untuk memakai sepatunya kembali, dia akan kehilangannya. Kita lihat bagaimana dia kaget dan cemas!”

Syeikh yang bijak itu menjawab,

“Ananda, tidak pantas kita menghibur diri dengan mengorbankan orang miskin. Kamu kan seorang yang kaya, dan kamu bisa saja menambah kebahagiaan untuk dirinya.
Sekarang kamu coba memasukkan beberapa lembar uang kertas ke dalam sepatunya, kemudian kamu saksikan bagaimana respon dari tukang kebun miskin itu”.

Sang murid sangat takjub dengan usulan gurunya. Dia langsung saja berjalan dan memasukkan beberapa lembar uang ke dalam sepatu tukang kebun itu. Setelah itu dia bersembunyi di balik semak-semak bersama gurunya sambil mengintip apa yang akan terjadi dengan tukang kebun.

Tidak beberapa lama datanglah pekerja miskin itu sambil mengibas-ngibaskan kotoran dari pakaiannya. Dia menuju tempat sepatunya dia tinggalkan sebelum bekerja. Ketika dia mulai memasukkan kakinya ke dalam sepatu, dia menjadi terperanjat, karena ada sesuatu di dalamnya.
Saat dia keluarkan ternyata…. uang !!
Dia memeriksa sepatu yang satunya lagi, ternyata juga berisi uang. Dia memandangi uang itu berulang-ulang, seolah-olah dia tidak percaya dengan penglihatannya.

Setelah dia memutar pandangannya ke segala penjuru dia tidak melihat seorangpun. Selanjutnya dia memasukkan uang itu ke dalam sakunya, lalu dia berlutut sambil melihat ke langit dan menangis.

Dia berteriak dengan suara tinggi, seolah-olah dia bicara kepada Allah Ar Rozzaq :

“Aku bersyukur kepada-Mu Wahai Rabbku. Wahai Yang Maha Tahu bahwa istriku lagi sakit dan anak-anakku lagi kelaparan. Mereka belum mendapatkan makanan hari ini. Engkau telah menyelamatkanku, anak-anak dan istriku dari celaka.”

Dia terus menangis dalam waktu cukup lama sambil memandangi langit sebagai ungkapan rasa syukurnya atas karunia dari Allah Yang Maha Pemurah.

Sang murid sangat terharu dengan pemandangan yang dia lihat di balik persembunyiannya. Air matanya meleleh tanpa dapat dia bendung.

Ketika itu Syeikh memasukkan pelajaran kepada muridnya, “Bukankah sekarang kamu merasakan kebahagiaan yang lebih dari pada kamu melakukan usulan pertama dengan menyembunyikan sepatu tukang kebun miskin itu?”

Sang murid menjawab, “Aku sudah mendapatkan pelajaran yang tidak akan mungkin aku lupakan seumur hidupku. Sekarang aku baru paham makna kalimat yang dulu belum aku pahami sepanjang hidupku:

“Ketika kamu memberi, kamu akan mendapatkan kebahagiaan yang lebih banyak dari pada kamu menerima.”
(Dikutip dati Kajian Kisah dn Sejarah Islam via Status Nasihat)

Kisah ini mengingatkan kita akan sifat ALLAH AL-HAKIM – Allah Maha Bijaksana.

#spiritasmaulhusna yang baiknya ada pada diri kita, belajar bijak dalam menasehati, bijak dalam menghadapi permasalahan yang ada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *